KOPI ROBUSTA BUDAYA LIWA

KOPI ROBUSTA BUDAYA LIWA

Super Administrator
11 November 2018

Tanaman kopi merupakan penopang perekonomian masyarakat Liwa (Lampung Barat) yang telah berlangsung sejak lama. Pola budidaya kopi robusta liwa (Korola) masyarakat yang khas dan merupakan budaya keseharian masih terpelihara hingga saat ini. Hal ini terlihat masih banyaknya tanaman kopi yang tinggi menggapai langit kesejahteraan pemiliknya dengan jarak tanam yang tergolong rapat.

Panen kopi bukanlah satu-satunya yang diharapkan budaya masyarakat Liwa. Jekhuan atau batang kopi juga menjadi budaya masyarakat untuk menyediakan bahan bakar guna kegiatan Bebatok nayuh (gotong royong pesta) yang ada. Sehingga wajar muncul istilah kupi khik jekhuan mak dapok tipisahkon (kopi dan batangnya tidak bisa dipisahkan). Hal ini juga didukung dengan berbagai kejadian yang telah mereka alami. Salah satunya yaitu ketika tingginya curah hujan yang membuat kopi kurang produktif, ternyata untuk kopi yang mereka lakukan tingkat penurunannya tidak sedalam kopi yang diperlakukan dengan pemangkasan. Inilah salah satu mengapa dibuatnya tulisan ini.

Aneka tanaman yang menemani tanaman kopi juga menjadi bagian keunikan sebagai pola pertanian terpadu masyarakat yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam melestarikan kopi robusta liwa  (Korola) dalam kehidupan sosial masyarakat Lampung Barat.  Untuk itu tulisan ini mencoba memperkaya khasanah budidaya kopi yang ramah terhadap kebiasaan sosial budaya masyarakat Liwa.

Budidaya kopi ramah budaya

Tidak salah rasanya jika kami mengatakan pola yang akan kami sampaikan disini merupakan konsep budidaya kopi robusta liwa yang menghargai dan melestarikan budaya masyarakat Liwa dalam memelihara kopi tanpa mengabaikan konsep peningkatan pendapatan dengan adanya produksi kopi yang terjaga produktivitasnya. Gabungan jekhuan dan buah kopi suatu pemikiran yang mendasari pikiran kami.

Kerapatan tanaman kopi yang telah diwariskan di masyarakat Liwa (baca: Lampung Barat) dirasakan perlu dilakukan manajemen pemeliharaan secara intensif. Inilah masalah sekaligus sebagai jalan keluar peningkatan produksi kopi budaya masyarakat Liwa. Penataan tanaman yang ada dengan pola selang seling (satu disambung stek , satu kopi jekhuan) baik baris maupun susunan kolom tanaman kopi,  begitu seterusnya dalam setiap barisan tanaman kopi yang ada.

Pemeliharaan kopi jekhuan

Kopi jekhuan, merupakan tanaman kopi yang dipanen kopi berikut jekhuannya dengan pengelolaan 3 batang secara berurutan dalam penebangannya setiap bulan Agustus. Pada bulan tersebut pun dilakukan pemeliharaan tunas batang baru guna menjaga 3 (tiga) batang secara tetap.

Konsep pemeliharaan dilakukan dengan penamaan batang 1 merupakan lepas ngagung, batang 2 sebagai batang ngagung, dan batang 3 sebagai batang buah pangkal. Pemeliharaan tunas batang 4 diiringi dengan panen dan penebangan batang lepas ngagung, begitu seterusnya. Tentunya tanpa meninggalkan pola pemupukan yang baik tetap dilaksanakan sesuai aturan budidaya tanaman kopi robusta.

 

Pemeliharaan kopi stek

Sementara kopi stek diberi perlakuan yang mempertimbangkan fase pembungaan kopi yang ada yaitu bulan Mei (menyesuaikan karakter masing-masing lokasi). Pembungaan pada bulan ini menuntut adanya pemeliharaan kipas tanaman kopi di bulan 11 dan 12 tahun sebelumnya. Hal ini diiringi dengan dilakukannya pemangkasan wiwilan tunas yang muncul di bulan 5 hingga bulan 10 pada setelah memasuki fase pembungaan. Perlakuan ini bertujuan meningkatkan proses pembesaran buah yang terjadi.

 

Selanjutnya juga harus dipastikan berkisar 20 centimeter dari batang utama diupayakan tidak ada tunas yang tumbuh. Hal ini sebagai upaya menjaga kelembaban disekitar batang kopi dan menghindari terjadinya tumbuh jamur atau kekurangan pencahayaan di bagian bawah tanaman kopi. Setiap batang diupayakan dipeliharan 16 ranting sebagai sumber buah pertama (B1) yang diikuti dengan pemupukan yang baik diharapkan akan mampu menghasilkan 1 kg biji kopi kering per batang nantinya. Dan ranting B1 ini dibiarkan hingga tumbuh tunas ranting sebagai sumber buah kedua (B2).

 

Dan perlu juga dijaga tidak terjadinya pembuahan yang berasal dari ranting sumber buah ketiga. Hal ini menunjukan perlu dilakukannya pemangkasan ranting B1 dan B2 pada titik ranting B0 (20 cm dari batang utama) setelah dilakukannya panen pada ranting B2.

 

Penutup.

 

Konsep ini diringkas dari hasil pembicaraan dengan petugas Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Lampung Barat, Bapak Suroso dalam ngopi santai ngomongin peluang pengembangan Kampung Kopi Budaya Liwa (Kampung KBL), kopi robusta Liwa  (korola) yang ramah terhadap sosial masyarakat Liwa dalam memelihara kopi. (Sumarlin)#

dinas perkebunan
fgjyrdyhgj
Super Administrator
Super Administrator
No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.
© Copyright 2018.DISBUNNAK Kabupaten Lampung Barat. All Right Reserved
Alamat : Jl.Teratai no 3 liwa . Telp : (0728) 21651